Piala Dunia 2014 –  Berharap pada Utak-Atik Taktik Roy Hodgson

Piala Dunia 2014 – Miris memang jika melihat prestasi Inggris. Mengaku sebagai negara yang melahirkan sepakbola, toh mereka sangat sulit berbicara banyak di kancah internasional. Hanya sekali mereka menjadi juara dunia pada 1966. 48 tahun lalu. Artinya prestasi itu sudah berlalu nyaris setengah abad. Dengan catatan tambahan: Itu pun saat mereka menjadi tuan rumah.

Sementara di kancah Eropa mereka bahkan tak pernah sekali pun jadi jawara. Saat menjadi tuan rumah Piala Eropa 1996, dengan jargon turnamen yang terasa arogan yaitu “football comes home”, mereka mentok hanya sampai semifinal. Sejak itu, mereka tak pernah lagi mencapai babak semifinal turnamen antar negara, baik Piala Eropa apalagi Piala Dunia.

Bahkan untuk Piala Dunia 2014 ini, publik Inggris bahkan sudah tak menaruh ekspektasi yang tinggi pada tim nasionalnya sendiri. Capaian yang didapat pada turnamen-turnamen sebelumnya memberi pelajaran pada publik Inggris untuk berhati-hati memberi ekspektasi.

Piala Dunia 2010, misalnya, mereka begitu impresif di babak kualifikasi di bawah asuhan Fabio Capello. Inggris bahkan menjadi negara Eropa pertama yang memastikan lolos ke Piala Dunia 2010. Optimisme membuncah. Lalu apa yang terjadi di Afrika Selatan? Mereka berakhir di babak 16 Besar setelah dikalahkan Jerman dengan skor sangat telak: 1-4.

Ekspektasi yang biasa-biasa saja inilah yang mengiringi kepergian Gerrard, dkk., ke Brazil. Mereka bergabung di Grup D yang dihuni oleh Italia, Uruguay dan Kosta Rika. Bergabung dengan Italia dan Uruguay ternyata sudah membuat publik Inggris untuk tidak berharap yang kelewatan. Bahkan sekadar lolos dari babak grup pun Inggris masih dalam pertanyaan besar.

eka bahkan tak pernah sekali pun jadi jawara. Saat menjadi tuan rumah Piala Eropa 1996, dengan jargon turnamen yang terasa arogan yaitu “football comes home”, mereka mentok hanya sampai semifinal. Sejak itu, mereka tak pernah lagi mencapai babak semifinal turnamen antar negara, baik Piala Eropa apalagi Piala Dunia.

Bahkan untuk Piala Dunia 2014 ini, publik Inggris bahkan sudah tak menaruh ekspektasi yang tinggi pada tim nasionalnya sendiri. Capaian yang didapat pada turnamen-turnamen sebelumnya memberi pelajaran pada publik Inggris untuk berhati-hati memberi ekspektasi.

Piala Dunia 2010, misalnya, mereka begitu impresif di babak kualifikasi di bawah asuhan Fabio Capello. Inggris bahkan menjadi negara Eropa pertama yang memastikan lolos ke Piala Dunia 2010. Optimisme membuncah. Lalu apa yang terjadi di Afrika Selatan? Mereka berakhir di babak 16 Besar setelah dikalahkan Jerman dengan skor sangat telak: 1-4.

Ekspektasi yang biasa-biasa saja inilah yang mengiringi kepergian Gerrard, dkk., ke Brazil. Mereka bergabung di Grup D yang dihuni oleh Italia, Uruguay dan Kosta Rika. Bergabung dengan Italia dan Uruguay ternyata sudah membuat publik Inggris untuk tidak berharap yang kelewatan. Bahkan sekadar lolos dari babak grup pun Inggris masih dalam pertanyaan besar.

Polemik Persoalan Klasik

Tapi ada hal yang segar dari Inggris di Piala Dunia kali ini. Mereka membawa banyak nama-nama muda. Jika Adam Lallana tak bisa dibilang muda, maka Raheem Sterling, Ross Barkley, Jack Wilshere, Luke Shaw, Danny Welbeck, Leighton Baines adalah nama-nama muda yang menghiasi skuat Tiga Singa pada gelaran Piala Dunia kali ini.

Banyaknya pemain muda yang mengisi skuat Inggris bisa menggambarkan regenerasi Inggris tak buruk-buruk amat. Setidaknya, Roy Hodgson mencoba membuktikan bahwa Inggris punya alternatif yang cukup banyak dalam menyusun komposisi pemain. Menariknya, ini yang sedikit ironis, Hodgson justru terlihat masih kebingungan memilih starting line-up.

Meski sudah menentukan pilihan untuk bermain dengan pola 4-2-3-1, tapi sampai detik-detik akhir menjelang dibukanya Piala Dunia, Hodgson masih belum bisa memastikan nama-nama pemain yang mengisi starting XI-nya. Dan persoalan ini mengulang persoalan klasik yang sudah menghantui Inggris dalam satu dekade terakhir: komposisi lini tengah